BI Sebut Bank Asing Berbisnis Kartu Kredit Di Indonesia

Mokapog – Bank Indonesia (BI) membeberkan alasan bank asing berbisnis kartu kredit di Indonesia. Alasan utama adalah tingginya biaya operasional dan persaingan yang ketat.

“Biaya operasional kartu kredit di Indonesia relatif tinggi, terutama untuk bank asing,” kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Erwin Rijanto, dalam diskusi virtual, Rabu (17/1/2023).

Erwin menjelaskan, biaya operasional kartu kredit terdiri dari biaya administrasi, biaya kartu, biaya bunga, dan biaya lain-lain. Biaya administrasi kartu kredit di Indonesia relatif tinggi, mencapai 1,5%-2% dari nilai transaksi. Sementara itu, biaya kartu mencapai 1%-1,5% dari nilai transaksi.

Selain itu, persaingan di bisnis kartu kredit di Indonesia juga semakin ketat. Hal ini disebabkan oleh pertumbuhan pesat jumlah pengguna kartu kredit di Indonesia. Menurut data BI, jumlah kartu kredit yang beredar di Indonesia mencapai 28,4 juta kartu per November 2022.

“Persaingan di bisnis kartu kredit semakin ketat, terutama dengan munculnya pemain-pemain baru,” kata Erwin.

Akibat dari tingginya biaya operasional dan persaingan yang ketat, bank-bank asing memutuskan untuk melepas bisnis kartu kredit di Indonesia. Beberapa bank asing yang telah melepas bisnis kartu kredit di Indonesia antara lain Citibank, HSBC, dan Standard Chartered.

BI mencatat, jumlah kartu kredit yang diterbitkan oleh bank-bank asing di Indonesia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2022, jumlah kartu kredit yang diterbitkan oleh bank-bank asing hanya mencapai 4,2 juta kartu, turun 10,2% dibandingkan tahun sebelumnya.

Erwin mengatakan, BI Sebut Bank Asing bisnis Kartu Kredit Di Indonesia akan terus memantau perkembangan bisnis kartu kredit di Indonesia. BI juga akan mendorong bank-bank untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional kartu kredit.

“BI akan terus mendorong bank-bank untuk meningkatkan efisiensi biaya operasional kartu kredit,” kata Erwin.